Perhimpunan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) mengatakan bahwa harga Tandan Buah Segar (TBS) petani sawit anjlok, setelah munculnya kebijakan baru pemerintah terkait tata kelola ekspor sawit melalui skema Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Selain itu, kebijakan tersebut membuat para pengusaha, trader, refinery, eksportir, dan pelaku pasar memilih menahan diri akibat ketidakjelasan arah kebijakan pemerintah.
Ketidakpastian kebijakan tersebut juga memicu kepanikan pasar, spekulasi, dan penurunan aktivitas perdagangan yang akhirnya menekan harga CPO dan harga TBS petani.
Pidato Prabowo Runtuhkan Kepercayaan
Siapa yang mengira, pidato hampir dua jam oleh Presiden Prabowo telah mengakibatkan Rump dan tengkulak tidak lagi mau menggerakan mobil truk-nya untuk mengambil buah sawit petani di kebun. Sawit tidak diangkut, busuk di tempat dan akhirnya tidak ternilai dengan harga,”
kata Ketua Umum POPSI Mansuetus Darto dalam keterangan resmi, Jumat, 22 Mei 2026.
POPSI lebih jauh menekankan bahwa yang paling dirugikan bukan pelaku under invoicing, seperti yang diklaim oleh Presiden Prabowo, melainkan petani sawit yang harga jualnya tergerus jauh akibat pasar yang tidak stabil.
Padahal industri sawit menyangkut kehidupan sekitar 17 juta orang, mulai dari petani, buruh, pekerja transportasi, UMKM, hingga masyarakat di daerah sentra sawit,”
ujar Mansuetus.

Harga Tender CPO Turun
Sementara itu, berdasarkan keterangan POPSI dari hasil data di lapangan, menunjukkan harga tender CPO turun dari sekitar Rp15.300 per kg menjadi Rp12.150 per kg hanya dalam beberapa hari.
Dampaknya pun langsung dirasakan petani di berbagai daerah seperti:
- Sumatera Selatan turun dari Rp3.577 menjadi Rp2.722/kg
- Kalimantan Tengah turun dari Rp3.483 menjadi Rp3.163/kg
- Riau turun dari Rp3.397 menjadi Rp3.070/kg
- Jambi turun dari Rp3.266 menjadi Rp2.944/kg
- Sumatera Utara turun dari Rp3.299 menjadi Rp2.899/kg.


