Menurut Dr. Kent Kiehl, ahli neurosains dari University of New Mexico yang meneliti psikopati dengan teknologi fMRI, dan juga sebagai penulis buku The Psychopath Whisperer: The Science of Those Without Conscience, ditemukan bahwa banyak individu dengan ciri psikopatik menunjukkan aktivitas abnormal pada area otak yang berkaitan dengan empati, rasa takut, dan pengambilan keputusan moral.
Artinya, dalam banyak kasus, psikopati bukan hanya soal perilaku, tetapi juga berkaitan dengan perbedaan fungsi neurologis.
Menurut Dr. Hervey Cleckley, pelopor studi psikopati sejak 1940-an, ciri khas psikopat adalah adanya mask of sanity, kemampuan tampil normal, bahkan menawan, padahal secara emosional kosong.
Sosiopat memiliki beberapa kemiripan perilaku dengan psikopat, tetapi biasanya lebih:
- Impulsif
- Emosional
- Sulit mengontrol amarah
- Tidak stabil dalam pekerjaan dan relasi
- Dipengaruhi kuat oleh lingkungan
Menurut Dr. Theodore Millon, profesor psikologi klinis dan pakar gangguan kepribadian, pola sosiopatik banyak berkembang akibat:
pengalaman trauma masa kecil, kekerasan, penelantaran emosional, dan lingkungan sosial yang disfungsional.
Sosiopat sering masih mampu membentuk ikatan emosional terbatas, tetapi empatinya tidak stabil dan sangat selektif.
Perbedaan Psikopat dan Sosiopat Secara Ilmiah
Psikopat:
- Faktor biologis/neuropsikologis lebih dominan
- Tenang, dingin, sangat terkontrol
- Perilaku sering terencana
- Pandai menyamar secara sosial
- Emosi sangat dangkal
Sosiopat:
- Faktor lingkungan lebih dominan
- Lebih impulsif dan emosional
- Ledakan emosi lebih sering
- Sulit mempertahankan kehidupan sosial stabil
- Perilaku sering reaktif, bukan strategis
Contoh Kasus Serial Killer dalam Kajian Psikologi
Penting dicatat: tidak semua psikopat atau sosiopat adalah kriminal, dan mayoritas penderita gangguan kepribadian tidak melakukan kekerasan ekstrem. Namun, beberapa kasus kriminal berat sering dipelajari psikolog untuk memahami pola ekstrem.
Ted Bundy – sering dikaji sebagai contoh psikopati
Ted Bundy, serial killer Amerika yang dihukum mati pada 1989, sering digunakan dalam studi psikologi forensik.
Menurut Dr. Robert D. Hare, Bundy menunjukkan banyak ciri klasik psikopati dengan skor 39/40:
- Pesona sosial tinggi
- Manipulatif
- Tidak menunjukkan rasa bersalah
- Kejahatan dilakukan terencana
- Mampu menyamar sebagai individu normal
Bundy dikenal mampu membangun kepercayaan korban, berpura-pura ramah, dan menggunakan kecerdasannya untuk menghindari kecurigaan. Pola ini konsisten dengan konsep mask of sanity yang dijelaskan Cleckley.
Aileen Wuornos – sering dikaji lebih dekat ke pola sosiopatik
Aileen Wuornos, pelaku pembunuhan berantai di Florida pada 1990-an, sering dibahas dalam literatur sebagai contoh individu dengan riwayat trauma lingkungan ekstrem.
Menurut analisis banyak psikolog forensik, termasuk yang terdokumentasi dalam evaluasi klinis kasusnya, Wuornos:
- Mengalami kekerasan dan pelecehan berat sejak kecil
- Hidup dalam lingkungan sangat disfungsional
- Menunjukkan emosi sangat tidak stabil
- Bertindak impulsif dan reaktif
Banyak pakar melihat profil ini lebih mendekati pola sosiopatik, di mana gangguan terbentuk kuat oleh pengalaman hidup traumatis.
Penting: Jangan Sembarangan Melabeli
Menurut Dr. Scott Lilienfeld, profesor psikologi dari Emory University, budaya populer sering terlalu cepat melabeli orang sebagai psikopat atau sosiopat. Ia menegaskan bahwa:
menyebut seseorang psikopat tanpa evaluasi klinis adalah bentuk miskonsepsi serius tentang kesehatan mental.
Dr. Scott Lilienfeld
Gangguan kepribadian hanya bisa dinilai melalui:
- Observasi klinis panjang
- Wawancara mendalam
- Riwayat hidup
- Instrumen psikologis terstandar
Bukan dari potongan perilaku di media sosial atau pengalaman pribadi.