- Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan
- Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan
Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa:
- THR wajib diberikan kepada pekerja yang telah memiliki masa kerja minimal 1 bulan secara terus-menerus.
- THR harus dibayarkan paling lambat 7 hari sebelum hari raya keagamaan.
- THR tidak boleh dicicil.
- Berlaku bagi pekerja dengan status Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) maupun Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).
Komponen Upah untuk Perhitungan THR
THR dihitung berdasarkan upah satu bulan, yang terdiri dari:
- Gaji pokok
- Tunjangan tetap (tunjangan yang dibayarkan secara rutin dan tidak dipengaruhi kehadiran atau kinerja)
Tunjangan tidak tetap, seperti uang makan atau transport yang bergantung pada kehadiran, tidak termasuk dalam komponen perhitungan THR.
1. Cara Menghitung THR Penuh (Full) untuk Masa Kerja ≥ 12 Bulan
Pekerja yang telah bekerja selama 12 bulan atau lebih secara terus-menerus berhak menerima THR sebesar 1 bulan upah.
Rumus THR Full:
Contoh Perhitungan:
- Gaji pokok: Rp5.000.000
- Tunjangan tetap: Rp500.000
- Total upah sebulan: Rp5.500.000
- Masa kerja: 2 tahun
Maka, THR yang diterima adalah:
1 × Rp5.500.000 = Rp5.500.000
2. Cara Menghitung THR Prorate (Proporsional) untuk Masa Kerja 1–11 Bulan
Bagi pekerja yang memiliki masa kerja minimal 1 bulan tetapi kurang dari 12 bulan, THR dihitung secara proporsional sesuai lamanya masa kerja.
Rumus THR Prorate:
Contoh Perhitungan:
- Masa kerja: 7 bulan
- Total upah (gaji pokok + tunjangan tetap): Rp6.000.000
Langkah perhitungan:
Dengan demikian, THR yang diterima sekitar Rp3.498.000 atau dibulatkan menjadi sekitar Rp3.500.000 sesuai kebijakan perusahaan.